Jalan yang Terlihat Benar, Tapi Tidak Sampai Tujuan

Ada zebra cross.
Ada jalur pejalan kaki.
Ada jembatan melewati gorong-gorong.

Semua terlihat rapi — seolah dirancang untuk kebaikan pejalan kaki.
Namun di ujungnya… tembok berdiri menghalangi.

Akhirnya orang harus keluar jalur, melewati tanah, menembus sela bunga, mencari jalan sendiri.

Lalu siapa yang salah?

Sering kali kita cepat menyalahkan orang yang keluar jalur,
padahal jalurnya sendiri tidak pernah benar-benar sampai tujuan.

Kita membangun simbol kepedulian — tanda, aturan, struktur, tata tertib —
tetapi lupa memastikan apakah manusia sungguh bisa berjalan dengan nyaman.

Ini bukan hanya tentang jalan setapak.
Ini juga tentang hidup, organisasi, dan bahkan gereja.

Dalam pelayanan, kita sering membangun sistem yang tampak benar dari luar:
program ada, struktur lengkap, aturan jelas.
Namun ketika jemaat tetap mencari jalan sendiri, kita bertanya,
“Kenapa mereka tidak ikut jalur?”

Mungkin pertanyaan yang lebih jujur adalah:

?? Apakah jalur itu benar-benar mengantar mereka sampai tujuan?

Kepemimpinan rohani bukan sekadar membuat aturan yang rapi,
melainkan membuka jalan yang dapat dilalui manusia nyata — dengan pergumulan nyata.

Yesus tidak berkata, “Akulah tanda jalan.”
Ia berkata:

“Akulah jalan…” (Yohanes 14:6, TB2)

Jalan sejati bukan yang terlihat indah di gambar,
tetapi yang sungguh membawa orang berjalan sampai.

Sebelum menyalahkan pejalan kaki yang keluar jalur,
mungkin pemimpin perlu bertanya terlebih dahulu:

  • Apakah jalur yang kita bangun benar-benar terbuka?
  • Apakah orang bisa berjalan tanpa terhalang?
  • Ataukah tanpa sadar kita membangun tembok di ujung jalan?

? Aplikasi bagi jemaat

Jemaat sering dianggap keluar jalur, padahal mungkin jalurnya yang berhenti sebelum mereka bertemu tujuan.

Ketika jemaat terasa jauh, kurang terlibat, atau memilih jalan sendiri, itu bisa menjadi cermin bagi gereja untuk mengevaluasi:
apakah pelayanan kita masih membantu mereka bertemu Kristus, atau justru membuat perjalanan itu terasa sulit?

Gereja dipanggil bukan hanya menjaga keteraturan, tetapi menghadirkan jalan yang hidup — jalan yang menuntun orang, bukan menghambat mereka.

Kadang bukan hati jemaat yang menjauh,
melainkan mereka sedang mencari jalan yang benar-benar membawa mereka kepada Tuhan.

Dan mungkin… panggilan kita hari ini bukan mempercantik jalur,
melainkan memastikan setiap langkah manusia bisa sampai kepada Kristus melalui jalan yang terbuka, nyata, dan penuh kasih.