Pembesaran Prostat

Pembesaran Prostat   

Sumber : Harian Analisa 23 Agustus 2010
Oleh: Menti

PROSTAT adalah kelenjar eksokrin pada sistem reproduksi pria. Fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan dan me-nyimpan sejenis cairan yang menjadi dua pertiga bagian dari air mani.

Pembesaran prostat adalah gejala umum yang sering dia-lami pria di atas usia 50 tahun. Pembesaran terjadi di bagian tengah dari kelenjar prostat yang mengelilingi saluran kencing.

Apabila pembesaran kelenjar prostat ini berlangsung terus, maka dapat mengarah ke tahap yang lebih serius, dapat me-nyumbat saluran kencing sampai ke kanker prostat (tumor prostat, baik tumor jinak maupun ganas).

Tumor Prostat jinak meru-pakan pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ga-nas. Ini berbeda dengan kanker prostat. Hal ini tidak menimbulkan gejala, tetapi jika tumor ini terus berkembang, maka akhirnya akan mendesak uretra yang mengakibatkan rasa tidak nya-man.

Secara normal, prostat ber-kembang sesuai pertamabahan usia. Dimulai dari ketika ukuran kecil ketika masih anak-anak terus bertumbuh menjadi 20 gram pada usia 30 tahun. Ukuran prostat akan menetap sampai pada usia kira-kira 50 tahun. Pada usia 80 tahun, prostat akan berkembang lagi mencapai berat 35 gram.

Gejala yang sering dikeluhkan oleh pria (di atas 50 tahun) yang mengalami pembesaran prostat antara lain: pancaran kencing lemah, pancaran kencing ter-putus-putus, tidak tuntas saat berkemih, dan rasa ingin kencing lagi sesudah kencing selesai. Keluhan lainnya: keluarnya kencing selama beberapa detik pada akhir berkemih.

Frekuensi kencing yang tidak normal (terlalu sering), terbangun di malam hari karena sering kencing, sehingga sering dikira menderita penyakit diabetes melitus. Ada juga sebagian penderita yang merasa sulit menahan kencing, rasa sakit waktu berkemih, bahkan kencing bercampur darah.

Pembesaran prostat ada dua kelompok, yaitu: Benign Pros-tatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat yang tergo-long jinak dan yang termasuk ganas (kanker prostat). Memang tidak semua pria mengalami pem-besaran prostat. Berdasarkan hasil laporan sebuah lembaga penelitian, pria berumur lebih dari 50 tahun kemungkinan me-ngalami pembesaran prostat adalah 50 persen. Sedangkan pria berusia 80-85 tahun, kemung-kinannya meningkat menjadi 90 persen.

Pada awalnya, penderita pembesaran prostat tidak mera-sakan gejala apa pun, tetapi jika pembesaran itu terus berkembang dan akhirnya mendesak uretra/saluran kencing luar maka akan mengakibatkan rasa tidak nyaman saat kencing, seperti yang telah diterangkan di atas.

Untuk menentukan apakah sudah terjadi pembesaran atau belum perlu dilakukan peme-riksaanUltrasonografi prostat (USG). Pada sebagian kasus, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa pemeriksaan uroflowmetri.

Uroflowmetri merupakan pemeriksaan untuk mengetahui kekencangan aliran kencing. Dengan pemeriksaan ini dapat terdeteksi secara lebih teliti adanya Benign Prostatic Hypeplasia ataupun pembesaran prostat.

Gejala

Jika digolongkan, ada dua gejala pembesaran prostat, yaitu gejala obstruktif (sumbatan) dan gejala iritatif (peradangan). Gejala obstraktif meliputi ehesi-tancyl (dilihat dari pancaran kencing). Sedangkan yang terma-suk gejala iritatif adalah fre-kuennsi kencing yang tidak terlalu normal (terlalu sering).

Untuk menanggulangi pembe-saran prostat, ada beberapa pilihan yang bbisa dijadikan sebagai terapi yaitu: observasi bagi penderita yang tanpa keluhan sampai keluhan ringan, pem-berian obat-obatan yang berfungsi mengurangi hambatan di leher kandung kemih sehingga bisa memperlancar saat berkemih.

Ada obat yang bekerjanya antara lain secara hormonal, ada pula yang berfungsi mengurangi volume prostat.

Terapi lain adalah dengan fithotherapy/jamu-jamuan yang mekanismenya hingga saat ini sedang dalam penelitian.

Bagi penderita pembesaran prostat yang sudah mengalami kesulitan tertentu, seperti batu saluran kemih, kencing berdarah, infeksi saluran kemih atau setelah mendapatkan terapi obat-obatan tidak menunjukkan perbaikan, maka pilihan selanjutnya adalah dengan operasi.

Jenis operasi yang bisa dila-kukan, bisa dengan operasi invasif minimal, yaitu tindakan operasi yang ditujukan bagi pasien dengan risiko tinggi pembedahan sama seperti pasien penyakit jantung, diabetes melitus dan operasi untuk usia lanjut.

Setiap operasi tentu ada kemungkinan munculnya efek samping, meskipun sangat mini-mal. Tidak hanya operasi pembe-saran prostat, operasi pada saraf tulang belakang, kanndung kemih atau panggul bisa mengakibatkan efek samping berupa impotensi. Hal ini dikarenakan terjadinya kerusakan pada saraf-saraf penting jaringan otot atau pem-buluh darah di sekitar daerah perkenncingan.

Di samping itu, operasi di atas juga dapat mengakibbatkan pemandekan panjang penis. Hal mungkin disebabkan oleh karena operasi itu sendiri atau ber-hubungan dengan hilangnya fungsi ereksi penis yang prosesnya mirip dengan kelemahan otot pada saat patah tulang lengan atau kaki yang harus dibantu dibungkus gips selama beberapa bulan.

Dalam penelitian, hanya 33 persen dari pria yang mengalami efek samping operasi dapat men-capai ereksi dalam waktu tiga bu-lan setelah operasi. Jika selan-jutnya penis tidak mampu ereksi (tidak berfungsi sama sekali), maka dipertimbangkan untuk membuat ereksi buatan seperti dengan pompa vakum. Hal ini diharapkan dapat men-cegah pemendekan panjang penis setelah operasi.

Tentang efek samping pas-caoperasi (impoten) tidak perlu terlalu dirisaukan, karena tujuan mengatasi masalah yang diaki-batkan oleh adanya pembesaran kelenjar prostat tentu lebih utama daripada efek samping minimal (impoten) yang akan muncul. Karena cuukup banyak cara untuk mengatasi impoten pascaoperasi pembesaran prostat.

27,087 Replies to “Pembesaran Prostat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *